Banner Lebaran

Sebelum Puasa Dimulai, Warga Sumsel Lakukan Ritual Ini: Ruwahan, Tradisi Sunyi Penuh Makna

Sebelum Puasa Dimulai, Warga Sumsel Lakukan Ritual Ini: Ruwahan, Tradisi Sunyi Penuh Makna

Warga Sumatera Selatan melakukan tradisi Ruwahan menjelang bulan suci Ramadan.-Fhoto: Ist-

Harianokus.com – Ada satu momen yang selalu dinanti masyarakat Sumatera Selatan menjelang Ramadan. Bukan soal takjil, bukan pula hiruk-pikuk pasar dadakan. Melainkan sebuah tradisi yang berlangsung dalam suasana tenang, khidmat, dan sarat makna: Ruwahan.

Tradisi Ruwahan menjadi penanda bahwa bulan suci sudah semakin dekat. Di kampung-kampung hingga sudut kota, masyarakat berbondong-bondong pulang ke makam leluhur, membawa doa, bunga, dan harapan agar Ramadan disambut dengan hati yang bersih.

BACA JUGA:Karhutla Sumsel 2025 Capai 5.939,8 Hektare, OKI Jadi Daerah Terluas Terbakar

BACA JUGA:Hujan Deras, 125 RT dan 14 Ruas Jalan di Jakarta Masih Terendam

Ruwahan berakar dari kata Ruwah, bulan dalam penanggalan Jawa-Islam yang bertepatan dengan Syaban. Seiring masuk dan berkembangnya Islam di Sumatera Selatan, tradisi ini berakulturasi dengan budaya lokal dan terus hidup hingga kini.

Bagi masyarakat Sumsel, Ruwahan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan warisan spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

BACA JUGA:Peringati Isra’ Mi’raj 1446 H, UPT SMPN 01 Muaradua Gelar Lomba Adzan dan Tausiyah

BACA JUGA:Bawakan Puluhan Lagu, Band Republik Guncang Kawasan Wisata Ranau

Rangkaian Ruwahan umumnya diawali dengan ziarah kubur. Makam dibersihkan, rumput dirapikan, lalu doa dipanjatkan untuk orang-orang tercinta yang telah lebih dulu berpulang. Aktivitas ini menjadi pengingat bahwa hidup bersifat sementara, sementara amal akan terus mengalir.

Tak berhenti di situ, Ruwahan juga diisi dengan yasinan, tahlilan, dan doa bersama yang dilakukan di rumah atau tempat ibadah. Dalam suasana sederhana, nilai kebersamaan terasa begitu kuat—tetangga berkumpul, saling menyapa, dan mempererat silaturahmi.

BACA JUGA:Heboh di Media Sosial, Siring Baru di Desa Prupus Ambrol

BACA JUGA:Usia 22 Tahun, Ketua Partai Gelora OKUS Harap Pembangunan Terus Berkelanjutan

Ruwahan mengajarkan lebih dari sekadar ritual. Ia mengandung filosofi tentang introspeksi diri, memaafkan kesalahan, serta menata niat sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Melalui Ruwahan, masyarakat diajak membersihkan hati dari dendam dan kesibukan duniawi, agar Ramadan dijalani dengan jiwa yang lebih tenang dan ibadah yang lebih bermakna.

Sumber: