BANNER RAMADHAN KOMINFO

Cadangan BBM Indonesia Hanya Cukup 20–25 Hari, Ketahanan Energi Jadi Sorotan

Cadangan BBM Indonesia Hanya Cukup 20–25 Hari, Ketahanan Energi Jadi Sorotan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap cadangan BBM Indonesia saat ini hanya mampu bertahan sekitar 20–25 hari sesuai kapasitas penyimpanan yang tersedia.--

Harian OKU Selatan.ID- Ketahanan energi nasional kembali menjadi perhatian setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 25 hari. Angka tersebut disebut sesuai dengan kapasitas maksimal fasilitas penyimpanan BBM yang dimiliki Indonesia saat ini.

Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran terkait tingkat ketahanan energi nasional, terutama di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.

BACA JUGA:Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan APBN, Pemerintah Siapkan Skenario Penyesuaian Harga BBM

Menurut Bahlil, kapasitas penyimpanan BBM di Indonesia saat ini memang dirancang untuk menampung cadangan dalam rentang waktu sekitar tiga minggu. Hal ini berbeda dengan sejumlah negara lain yang telah memiliki cadangan energi strategis hingga 60 sampai 90 hari untuk menghadapi potensi krisis energi.

Ia menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga mampu menampung cadangan selama 90 hari, pemerintah memerlukan investasi yang sangat besar. Perkiraan kebutuhan dana untuk membangun fasilitas penyimpanan tambahan tersebut mencapai sekitar Rp378 triliun.

“Jika kita ingin memiliki cadangan energi hingga 90 hari seperti negara maju, maka kita harus membangun infrastruktur tangki penyimpanan yang jauh lebih besar. Investasinya juga tidak kecil,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

BACA JUGA:Rupiah Melemah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Lampaui Level Krisis 1998

Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Sebagian besar pasokan minyak mentah maupun produk BBM didatangkan dari luar negeri karena kapasitas produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat.

Ketergantungan tersebut membuat Indonesia cukup rentan terhadap gangguan rantai pasok energi global. Apabila terjadi konflik besar yang memengaruhi jalur distribusi minyak dunia, maka pasokan energi ke Indonesia juga berpotensi terdampak.

BACA JUGA:Viral Anggaran Meja Biliar DPRD Sumsel Rp486 Juta, Ketua Dewan: Jika Tidak Bermanfaat Bisa Dibatalkan

Situasi ini menjadi semakin relevan ketika konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Gangguan terhadap produksi atau distribusi minyak dari wilayah itu dapat memicu lonjakan harga energi secara global.

Para pengamat energi menilai cadangan BBM selama 20–25 hari sebenarnya masih berada dalam batas aman untuk kondisi normal. Namun, dalam situasi krisis global atau gangguan distribusi yang berkepanjangan, cadangan tersebut dinilai relatif terbatas.

BACA JUGA:BPBD Sumsel Waspadai Potensi Banjir dan Longsor Saat Lebaran

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat strategi ketahanan energi nasional. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kapasitas penyimpanan energi strategis serta mempercepat pembangunan fasilitas cadangan energi nasional.

Sumber: