Harian OKU Selatan.ID- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) periode II Februari 2026 tercatat mengalami kenaikan tipis dibanding periode sebelumnya. Meski kenaikan tersebut belum signifikan, kondisi ini tetap disambut positif oleh para petani sawit yang berharap tren penguatan harga dapat berlanjut hingga memasuki bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Berdasarkan hasil rapat penetapan harga yang melibatkan Dinas Perkebunan Sumsel, perusahaan pengolahan kelapa sawit, serta perwakilan petani, harga TBS untuk usia tanam 10–20 tahun mengalami kenaikan beberapa rupiah per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global yang relatif stabil serta nilai tukar rupiah yang cukup terkendali dalam beberapa pekan terakhir.
BACA JUGA:Penegakan Hukum Menguat: Kasus Penganiayaan dan Perburuan Aset Koruptor Jadi Sorotan Nasional
Kepala Dinas Perkebunan Sumsel menjelaskan bahwa meskipun kenaikan tergolong tipis, hal ini menunjukkan adanya perbaikan permintaan pasar ekspor. Selain itu, produksi di beberapa sentra sawit di Sumsel juga mulai membaik setelah sebelumnya terdampak curah hujan tinggi yang sempat mengganggu proses panen dan distribusi.
“Memang kenaikannya belum terlalu besar, namun ini menjadi sinyal positif bagi petani. Kami berharap harga bisa terus membaik seiring meningkatnya kebutuhan minyak nabati global,” ujarnya.
BACA JUGA:Cara Mudah Cek NIK KTP Dipakai Orang untuk Pinjol atau Tidak, Wajib Tahu!
Sumatera Selatan sendiri merupakan salah satu provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Ribuan kepala keluarga menggantungkan hidup dari sektor ini, baik sebagai petani mandiri maupun plasma perusahaan. Dengan luas lahan sawit yang mencapai jutaan hektare, pergerakan harga TBS sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat di daerah sentra perkebunan seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir.
Sejumlah petani di Kabupaten Musi Banyuasin mengaku cukup lega dengan kenaikan harga kali ini. Menurut mereka, dalam beberapa bulan terakhir harga cenderung stagnan bahkan sempat mengalami penurunan. Biaya produksi seperti pupuk dan perawatan kebun yang masih tinggi membuat petani berharap harga TBS dapat menembus level yang lebih menguntungkan.
BACA JUGA:Bulog Tembus Pasar Saudi, Dapur Haji Makkah–Madinah Diperintah Gunakan Beras Nasional
“Kalau naiknya hanya sedikit memang belum terlalu terasa. Tapi setidaknya ini kabar baik. Kami berharap menjelang Ramadan harga bisa lebih bagus lagi,” kata Andi, salah satu petani sawit di Kecamatan Sungai Lilin.
Di sisi lain, pengamat ekonomi pertanian dari salah satu perguruan tinggi di Palembang menilai kenaikan tipis ini perlu dijaga dengan kebijakan stabilisasi yang tepat. Pemerintah daerah diharapkan terus mengawal transparansi penetapan harga serta mendorong peningkatan produktivitas kebun rakyat agar petani tidak hanya bergantung pada fluktuasi pasar global.
Selain faktor harga internasional, permintaan biodiesel dalam negeri juga disebut turut memengaruhi stabilitas harga CPO dan TBS. Program pencampuran biodiesel yang terus berjalan menjadi salah satu penopang permintaan domestik, sehingga membantu menjaga harga di tingkat petani.
Ke depan, para pelaku usaha berharap adanya perbaikan infrastruktur jalan di wilayah perkebunan agar distribusi hasil panen lebih lancar dan biaya angkut dapat ditekan. Dengan demikian, margin keuntungan petani bisa lebih optimal meski kenaikan harga tidak terlalu besar.
BACA JUGA:Pemerintah Percepat Pembangunan Lumbung Pangan Nasional, Perkuat Ketahanan Pangan 2026