Kalangan dan Pasar Saka Selabung Lesu, Masa Panen Tak Mampu Dongkrak Daya Beli Warga
Sepinya Pasar Saka Selabung dan kalangan di tengah musim panen menjadi gambaran nyata bahwa pemulihan ekonomi masyarakat belum sepenuhnya merata--
MUARADUA, OKU SELATAN – Kondisi pasar tradisional dan kalangan di wilayah Saka Selabung, Kabupaten OKU SELATAN, kini menjadi sorotan masyarakat. Meski daerah tengah memasuki masa panen hasil pertanian, suasana ekonomi yang biasanya menggeliat justru terlihat lesu. Aktivitas jual beli di kalangan maupun pasar terpantau sepi, dengan jumlah pembeli menurun drastis dibanding musim panen tahun-tahun sebelumnya.
Warga setempat mengaku heran karena masa panen yang seharusnya menjadi momentum meningkatnya perputaran uang di pedesaan ternyata belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap keramaian pasar. Banyak pedagang mengeluhkan minimnya transaksi, bahkan sejumlah lapak terlihat lengang sejak pagi hingga siang hari.
BACA JUGA:Kemenkeu Hitung Perubahan Subsidi Bunga KUR Jadi 5 Persen, Dampak ke UMKM Jadi Sorotan
Seorang pedagang sembako di kawasan Pasar Saka Selabung mengatakan bahwa penurunan pembeli sangat terasa dalam beberapa pekan terakhir. Biasanya saat panen, petani membawa hasil penjualan kebun dan berbelanja kebutuhan rumah tangga dalam jumlah besar. Namun tahun ini kondisi berbeda, di mana sebagian warga lebih memilih menahan pengeluaran karena faktor ekonomi yang belum stabil.
Selain pedagang sembako, penjual hasil pertanian, pakaian, hingga kebutuhan harian lainnya juga merasakan dampak serupa. Kalangan yang biasanya menjadi pusat aktivitas masyarakat desa pun terlihat jauh lebih sepi dari biasanya. Banyak warga datang hanya untuk menjual hasil bumi tanpa berbelanja lebih lanjut.
BACA JUGA:Rakor BTT di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Bupati Abusama Tekankan Transparansi Anggaran
Beberapa petani menyebut harga komoditas yang belum sepenuhnya stabil menjadi salah satu penyebab daya beli masyarakat menurun. Meski panen berlangsung, hasil yang diperoleh belum cukup memberikan keuntungan besar karena biaya produksi, pupuk, dan kebutuhan operasional pertanian masih tinggi.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada keramaian pasar tradisional. Jika situasi terus berlangsung, banyak pedagang berpotensi mengalami penurunan pendapatan berkepanjangan.
BACA JUGA:6 Tahun Tanpa Menunggu: Warga Aromantai Swadaya Cor Jalan Kebun, 11 Sak Semen Langsung Dipasang
BACA JUGA:CABAI MEROKET TURUN! Dari Rp80 Ribu ke Rp35 Ribu/Kg, Pasar Saka Selabung Diserbu Pembeli
Masyarakat berharap adanya dorongan ekonomi yang lebih kuat, baik melalui stabilitas harga hasil pertanian maupun peningkatan daya beli warga, agar pasar tradisional kembali hidup. Pasar dan kalangan selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat pedesaan di OKU Selatan.
Sepinya Pasar Saka Selabung dan kalangan di tengah musim panen menjadi gambaran nyata bahwa pemulihan ekonomi masyarakat belum sepenuhnya merata. Warga kini menanti perubahan agar masa panen kembali menjadi momen peningkatan kesejahteraan, bukan sekadar rutinitas tanpa dampak besar bagi perekonomian lokal.
Sumber:
