BANNER RAMADHAN KOMINFO

Sejuta Cerita dalam Se-Keranjang Kopi: Potret Panen Raya Petani OKU Selatan

Sejuta Cerita dalam Se-Keranjang Kopi: Potret Panen Raya Petani OKU Selatan

Dari keranjang rotan penuh ceri kopi hingga kreativitas meracik pupuk organik, kisah petani OKUS mencerminkan semangat bertahan di tengah mahalnya pupuk dan rusaknya infrastruktur jalan kebun.--

MUARADUA, OKU SELATAN – Di tengah musim panen raya kopi robusta, sebuah keranjang rotan berisi ceri kopi merah dan hijau menjadi gambaran nyata perjuangan petani di OKU Selatan. Foto sederhana yang diambil di kawasan perkebunan pada Rabu siang, 6 Mei 2026, merekam lebih dari sekadar hasil panen—ia memotret kerja keras, harapan ekonomi, dan kecerdikan petani lokal dalam bertahan di tengah berbagai tantangan.

Bulan Mei menjadi masa penting bagi petani kopi di wilayah Danau Ranau, Banding Agung, Buay Rawan, hingga Muaradua. Ribuan keluarga menggantungkan penghasilan utama dari panen kopi yang kini mulai ramai dipetik. Warna merah pada buah kopi menandakan kualitas matang yang siap diolah, sementara buah hijau yang ikut terpetik menunjukkan tekanan waktu yang dihadapi petani saat musim panen serentak berlangsung.

BACA JUGA:Distribusi Air Bersih Terganggu, Warga Simpang Pendagan hingga Kisau Dilayani Mobil Tangki

BACA JUGA:DLH OKU Selatan Dikritik Keras, 20 Tong Sampah Dinilai Hanya Seremoni

Bagi petani, satu keranjang kopi bukan sekadar hasil kebun. Dari sanalah biaya kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga kebutuhan kesehatan dipenuhi. Dengan harga kopi robusta kering yang masih bertahan di kisaran Rp48 ribu per kilogram, panen saat ini menjadi harapan besar bagi perekonomian masyarakat pedesaan.

Di balik hasil panen, petani juga menunjukkan inovasi luar biasa. Tingginya harga pupuk kimia mendorong banyak petani meracik pupuk organik mandiri menggunakan bahan sederhana seperti kotoran ternak, air cucian beras, mikroorganisme, dan gula. Bahkan karung bekas gula impor dimanfaatkan ulang sebagai wadah pengangkut kopi dari kebun ke rumah, mencerminkan budaya hemat dan kreatif yang sudah lama melekat di kalangan petani OKU Selatan.

BACA JUGA:Kemenkes Ancam Bekukan RSUD Jika Terbukti Lalai dalam Kasus Wafatnya dr Myta Aprilia

BACA JUGA:Harga Jagung Kering di OKU Selatan Tembus Rp6.100/Kg, Petani Nikmati Kenaikan

Namun perjuangan mereka tak lepas dari hambatan infrastruktur. Beberapa akses jalan perkebunan yang rusak membuat ongkos angkut hasil panen meningkat tajam. Meski demikian, semangat petani tetap terjaga. Setiap pagi mereka tetap berangkat ke kebun demi memastikan buah kopi terbaik dapat dipanen sebelum kualitas menurun.

Kopi robusta asal OKU Selatan sendiri dikenal memiliki karakter rasa khas seperti dark chocolate dengan tingkat keasaman rendah, menjadikannya berpotensi besar di pasar nasional maupun ekspor. Potensi ini dinilai perlu didukung dengan perbaikan infrastruktur, penguatan merek lokal, serta hilirisasi produk agar nilai jual kopi petani semakin meningkat.

BACA JUGA:Kalangan dan Pasar Saka Selabung Lesu, Masa Panen Tak Mampu Dongkrak Daya Beli Warga

BACA JUGA:Bupati Abusama Terima Exit Meeting Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, Tegaskan Komitmen Perbaikan Ke

Keranjang rotan berisi kopi itu akhirnya menjadi simbol lebih besar: tentang ketekunan masyarakat OKU Selatan menjaga komoditas andalan daerah. Dari kebun-kebun sederhana di lereng Ranau, kopi robusta OKU Selatan terus membawa nama daerah menuju pasar yang lebih luas.

Di balik setiap secangkir kopi, tersimpan cerita panjang tentang peluh petani, kecerdikan bertahan hidup, dan harapan masa depan yang terus tumbuh di tanah OKU Selatan.

Sumber:

Berita Terkait