Dokter Jelaskan Pengaruh Kebiasaan Tidur Larut Malam pada Berat Badan
“Menjaga berat badan tidak hanya soal pola makan dan olahraga, tetapi juga kualitas tidur. Tidur cukup adalah bagian penting dari gaya hidup sehat,--
Harian OKU Selatan.id Kebiasaan tidur larut malam ternyata tidak hanya berdampak pada rasa lelah dan menurunnya konsentrasi, tetapi juga berpengaruh terhadap kenaikan berat badan. Hal ini diungkapkan seorang dokter spesialis gizi klinis yang menjelaskan bahwa pola tidur memiliki kaitan erat dengan metabolisme tubuh.
Menurutnya, kurang tidur atau sering begadang dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Dua hormon utama yang berperan adalah ghrelin dan leptin. Saat seseorang kurang tidur, kadar ghrelin (hormon pemicu rasa lapar) cenderung meningkat, sementara leptin (hormon penekan nafsu makan) justru menurun.
BACA JUGA:Lonjakan Permintaan Tiket Kereta Api di Palembang Jelang Imlek 2026
“Akibatnya, orang yang tidur larut malam cenderung merasa lebih lapar dan memiliki keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori, terutama makanan manis dan berlemak,” jelasnya.
Selain itu, tidur yang tidak cukup juga dapat memengaruhi kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan stres. Peningkatan kortisol dapat memicu penumpukan lemak, terutama di area perut. Kondisi ini jika berlangsung dalam jangka panjang berisiko menyebabkan obesitas dan gangguan metabolik lainnya.
Dokter tersebut menambahkan bahwa kebiasaan begadang juga sering diikuti dengan pola makan tidak teratur. Banyak orang yang mengonsumsi camilan pada malam hari, padahal pada waktu tersebut metabolisme tubuh melambat. Kalori yang masuk tidak terbakar secara optimal sehingga lebih mudah disimpan sebagai lemak.
BACA JUGA:GAC AION Hyptec HT dan AION UT sabet penghargaan di IIMS 2026
Penelitian dari berbagai institusi kesehatan dunia juga menunjukkan hubungan antara durasi tidur kurang dari enam jam per malam dengan peningkatan indeks massa tubuh (IMT). Kurang tidur dinilai memengaruhi sensitivitas insulin, yang berperan penting dalam pengaturan gula darah. Jika terganggu, risiko diabetes tipe 2 pun dapat meningkat.
Tidak hanya itu, kurang tidur juga berdampak pada energi untuk beraktivitas fisik. Orang yang tidur terlalu larut cenderung merasa lemas keesokan harinya dan kurang termotivasi untuk berolahraga. Padahal aktivitas fisik merupakan kunci menjaga berat badan tetap ideal.
Dokter menyarankan agar orang dewasa tidur selama 7–9 jam setiap malam untuk menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh. Ia juga mengimbau masyarakat membangun rutinitas tidur yang konsisten, seperti menghindari penggunaan gawai sebelum tidur dan membatasi konsumsi kafein di malam hari.
“Menjaga berat badan tidak hanya soal pola makan dan olahraga, tetapi juga kualitas tidur. Tidur cukup adalah bagian penting dari gaya hidup sehat,” tegasnya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan, dokter berharap kebiasaan begadang yang tidak perlu bisa dikurangi. Pola tidur yang baik bukan hanya membantu menjaga berat badan tetap stabil, tetapi juga meningkatkan daya tahan tubuh, kesehatan mental, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
BACA JUGA:Startup AI Lokal Luncurkan Platform Analitik Cerdas untuk UMKM
Sumber:





