Kuliner Ramadan 2026: Takjil Tradisional Naik Kelas, UMKM Kebanjiran Pesanan
Suasana pasar takjil Ramadan yang dipadati pembeli menjelang waktu berbuka puasa, dengan aneka kolak, es buah, gorengan, dan makanan tradisional tersaji di lapak pedagang UMKM lokal.--
Harian OKU Selatan.ID- Memasuki Ramadan 2026, geliat bisnis kuliner kembali meningkat signifikan. Di berbagai daerah seperti Palembang, Jakarta, dan Yogyakarta, pelaku UMKM mengaku mengalami lonjakan pesanan, terutama untuk menu takjil dan makanan berbuka puasa.
Tren tahun ini menunjukkan takjil tradisional naik kelas dengan kemasan lebih modern dan higienis. Menu seperti kolak pisang, es timun suri, bubur sumsum, hingga pempek dan aneka gorengan dikemas dalam box premium atau cup estetik yang menarik perhatian konsumen, terutama generasi muda.
BACA JUGA:Tren Kuliner 2026: Perpaduan Rasa Lokal dan Inovasi Modern Kian Digemari
Di Palembang, pedagang pempek dan model gandum mengaku omzet meningkat hingga 30 persen dibandingkan hari biasa. Banyak pembeli memesan dalam jumlah besar untuk acara buka puasa bersama keluarga maupun kantor. Sistem pre-order melalui media sosial dan aplikasi pesan antar juga semakin memudahkan transaksi.
Sementara itu di Jakarta, fenomena “war takjil” kembali viral di media sosial. Istilah ini merujuk pada ramainya masyarakat berburu takjil menjelang waktu berbuka. Pasar dadakan Ramadan di sejumlah titik dipadati pembeli sejak sore hari. Para pedagang mengaku momentum Ramadan menjadi periode paling dinantikan setiap tahun.BACA JUGA:Muhaimin: Data PBI BPJS Terus Diperbarui agar Tepat Sasaran
Selain takjil tradisional, menu fusion juga mulai diminati. Misalnya croffle dengan topping kurma, dessert box rasa klepon, hingga es kopi susu kurma yang menjadi minuman favorit berbuka. Inovasi ini dianggap mampu menarik pasar anak muda tanpa meninggalkan cita rasa lokal.
Pengamat ekonomi kreatif menilai sektor kuliner Ramadan menjadi salah satu penggerak ekonomi mikro. Selain meningkatkan pendapatan pedagang kecil, aktivitas ini juga membuka lapangan kerja musiman seperti kurir, asisten dapur, dan tenaga pengemasan.
Namun, tantangan tetap ada. Kenaikan harga bahan baku seperti gula, santan, dan minyak goreng membuat sebagian pedagang harus menyesuaikan harga jual. Meski demikian, permintaan yang tinggi membuat pelaku usaha tetap optimistis.
Pemerintah daerah di sejumlah kota juga menggelar bazar Ramadan untuk mendukung UMKM lokal. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga mempererat silaturahmi masyarakat selama bulan suci.
Dengan tren yang terus berkembang dan inovasi yang semakin kreatif, bisnis kuliner Ramadan 2026 diprediksi akan terus tumbuh hingga menjelang Lebaran. Pelaku usaha berharap momentum ini mampu meningkatkan pendapatan sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional Indonesia kepada generasi muda
BACA JUGA:Antisipasi Banjir, Polsek Simpang Martapura Intensif Pantau Debit Sungai Komering
Sumber: