MUARADUA, HARIANOKUS.COM - Kejaksaan Negeri (Kejari) OKU Selatan mengadakan konferensi pers untuk menerima limpahan tahap II kasus pemerkosaan terhadap anak kandung.
Dalam konferensi pers tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) OKU Selatan, Dr. Adi Purnama, SH., MH diwakilkan oleh Kasi Tindak Pidana Umum (Pidum) Ridho Darma Hermanto, SH, bersama Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Diketahui bahwa terdapat dua tersangka dalam kasus pemerkosaan terhadap anak kandung yang telah dilimpahkan oleh Kepolisian Resor (Polres) OKU Selatan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) dan kini memasuki tahap II.
BACA JUGA:Kontroversi Sayembara Kejaksaan Terhadap Tersangka Korupsi di Kejari OKU Selatan
Salah satu tersangka adalah Sahri Bin Pulan (71) yang merupakan penduduk Desa Pelawi, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten OKU Selatan.
Sahri diduga melakukan pemerkosaan terhadap anaknya sebanyak tiga kali beberapa waktu lalu.
Sementara itu, tersangka kedua adalah Rusman Hadi Bin Burhanudin (45) yang tinggal di Talang Sebaris, Kelurahan Kisau, Kecamatan Muaradua, Kabupaten OKU Selatan.
BACA JUGA:Kejaksaan Negeri (Kejari) OKU Selatan
Rusman Hadi juga diduga terlibat dalam kasus serupa, merudapaksa anak kandungnya mulai dari kelas II SD hingga kelas 6 SD.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) OKU Selatan, Dr. Adi Purnama, SH., MH yang diwakilkan oleh Kasi Tindak Pidana Umum (Pidum) Ridho Darma Hermanto, SH, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima limpahan tahap II dari Unit PPA, Polres OKU Selatan.
"Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti dan tersangka. Saat ini, kasus ini telah memasuki tahap II dan persidangan pertama akan segera dilaksanakan," ungkapnya.
Kedua tersangka ini akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku dan akan menerima hukuman setimpal sesuai dengan ketentuan pasal yang berlaku.
Menurut Kasi Pidum, kedua tersangka dikenakan Pasal 81 Ayat 3 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
"Biasanya kami menggunakan Pasal 82, namun karena pelaku-pelaku ini melakukan pemerkosaan terhadap anak kandung, hukumannya diperberat menjadi Pasal 81 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara," tegas Ridho.