IMLEK DAN RABU ABU 2026: Sikap Umat Katolik di Tengah Dua Tradisi

Jumat 13-02-2026,11:22 WIB
Reporter : HOS
Editor : HOS

Palembang — Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang berdekatan dengan Rabu Abu memunculkan beragam pertanyaan di kalangan umat tentang bagaimana menjalani dua tradisi yang memiliki makna spiritual dan budaya berbeda. Dalam situasi ini, umat Katolik diajak untuk memahami nilai iman sekaligus menghargai tradisi keluarga dan budaya secara bijak.

Tokoh gereja menyampaikan bahwa Rabu Abu merupakan awal masa Prapaskah dalam tradisi Gereja Katolik Roma, yang ditandai dengan pertobatan, doa, dan pantang. Sementara itu, Imlek merupakan perayaan budaya yang sarat nilai kekeluargaan, rasa syukur, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Menurut para pemuka agama, umat Katolik tetap dapat mengikuti tradisi Imlek sebagai bagian dari budaya, selama tidak bertentangan dengan ajaran iman. Kehadiran dalam acara keluarga, silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan dinilai selaras dengan nilai kasih dan persaudaraan yang diajarkan gereja.

Di sisi lain, umat juga diingatkan untuk tetap menjaga semangat Rabu Abu sebagai momentum refleksi diri. Beberapa gereja bahkan mengatur jadwal misa khusus agar umat tetap bisa menjalankan kewajiban religius tanpa meninggalkan momen kebersamaan keluarga saat Imlek.

Sejumlah umat mengaku berusaha menyeimbangkan keduanya dengan cara sederhana, seperti tetap menghadiri misa Rabu Abu sebelum mengikuti kegiatan keluarga. Ada pula yang memilih merayakan Imlek secara sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap masa Prapaskah.

Para pemimpin gereja berharap pertemuan dua momentum ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat toleransi dan pemahaman antarbudaya. Umat diimbau untuk tetap menjaga nilai kesederhanaan, menghindari sikap berlebihan, serta menjadikan kedua perayaan sebagai sarana memperdalam iman dan mempererat hubungan keluarga.

Dengan sikap terbuka dan bijaksana, umat Katolik diharapkan mampu menjalani dua tradisi tersebut secara seimbang—menghormati nilai budaya tanpa meninggalkan esensi spiritual yang menjadi bagian penting dalam kehidupan beriman.

Kategori :