Harian OKU Selatan.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan sore hari ini, di tengah dinamika pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Penguatan ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik setelah beberapa waktu terakhir rupiah mengalami tekanan akibat sentimen eksternal.
Berdasarkan data pasar, rupiah berhasil menguat tipis setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang hari. Pergerakan ini mencerminkan adanya respons positif pelaku pasar terhadap sejumlah sentimen, baik dari dalam negeri maupun global. Penguatan rupiah juga didorong oleh aksi ambil untung (profit taking) pada dolar AS setelah sebelumnya menguat cukup signifikan.
BACA JUGA:Arus Balik Lebaran di Sumsel Memuncak, 270 Ribu Warga Bergerak dalam Sehari
Analis pasar uang menyebutkan bahwa stabilnya kondisi ekonomi domestik turut menjadi faktor penopang rupiah. Fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat, termasuk neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus, memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak di zona hijau. Sebelumnya, data menunjukkan neraca dagang Indonesia masih mencatat surplus berkelanjutan, yang menjadi salah satu penopang nilai tukar.
BACA JUGA:LRT Sumsel Angkut 113.630 Penumpang hingga H+1 Lebaran 2026l
Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mencermati perkembangan kebijakan moneter global, khususnya dari bank sentral AS (The Fed). Sikap The Fed yang cenderung berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, penguatan rupiah masih dibayangi oleh sejumlah risiko eksternal. Ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, masih menjadi perhatian utama investor. Kondisi ini kerap memicu sentimen risk-off, di mana investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Komitmen Lanjutkan Program Makan Bergizi Gratis untuk Atasi Stunting
Selain itu, volatilitas di pasar keuangan global dan pergerakan harga komoditas juga turut memengaruhi arah rupiah. Kenaikan harga minyak dunia, misalnya, berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia jika berlangsung dalam jangka panjang.
Untuk perdagangan esok hari, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas. Sejumlah analis memproyeksikan rupiah akan berada dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS, tergantung pada perkembangan sentimen global dan data ekonomi terbaru.
BACA JUGA:Polisi Masih Memburu Pelaku Pembacokan di OKU Selatan, Korban Luka Parah
Pergerakan rupiah ke depan juga akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, serta arah kebijakan suku bunga global. Jika data ekonomi AS menunjukkan penguatan, maka dolar AS berpotensi kembali menguat dan menekan rupiah.
Namun, jika sentimen global cenderung stabil dan tidak ada gejolak signifikan, rupiah memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, meskipun secara terbatas. Dukungan dari intervensi Bank Indonesia juga diperkirakan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Secara keseluruhan, prospek rupiah dalam jangka pendek masih berada dalam fase konsolidasi. Penguatan hari ini menjadi sinyal positif, namun pelaku pasar tetap diimbau untuk waspada terhadap berbagai risiko global yang dapat memicu volatilitas sewaktu-waktu.
BACA JUGA:Pemerintah Siapkan Kebijakan WFA dan Sekolah Daring untuk Tekan Konsumsi BBM Mulai April 2026