BANNER RAMADHAN KOMINFO

Rupiah Masih Tertekan Jelang Libur Panjang Nyepi dan Lebaran 2026

Rupiah Masih Tertekan Jelang Libur Panjang Nyepi dan Lebaran 2026

Nilai tukar rupiah masih tertekan menjelang libur panjang Nyepi dan Lebaran 2026 akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.--

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan menjelang libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan domestik yang membuat pergerakan rupiah cenderung fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data pasar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini tidak lepas dari penguatan dolar AS yang saat ini masih mendominasi pasar keuangan global. Investor cenderung memilih aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

BACA JUGA:BGN Klaim Hemat Rp5 Triliun, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara Saat Libur Lebaran 2026

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah meningkatnya tensi geopolitik global serta kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah. Kondisi ini berdampak langsung terhadap arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga turut memberikan pengaruh. Permintaan valuta asing yang meningkat menjelang libur panjang menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan impor serta aktivitas perusahaan yang meningkat sebelum libur turut mendorong permintaan dolar AS.

BACA JUGA:Tol Kayuagung–Palembang Tambah Fasilitas, Antisipasi Lonjakan Kendaraan Jelang Mudik Lebaran

Pengamat ekonomi menilai bahwa kondisi ini masih dalam batas wajar, mengingat banyak negara berkembang lainnya juga mengalami tekanan serupa terhadap mata uang mereka. Namun demikian, stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian utama pemerintah dan otoritas moneter.

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing serta kebijakan suku bunga menjadi instrumen utama yang digunakan untuk meredam gejolak.

Selain itu, koordinasi antara pemerintah dan lembaga keuangan juga diperkuat guna menjaga kepercayaan pasar. Pemerintah berupaya memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

BACA JUGA:Program Bantuan Rumah di Palembang Mulai Tervalidasi, Ratusan Unit Siap Diperbaiki

Menjelang libur panjang, aktivitas perdagangan di pasar keuangan biasanya mengalami penurunan. Hal ini dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi karena berkurangnya likuiditas. Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dalam mengambil keputusan investasi.

Di sisi lain, sejumlah analis memproyeksikan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan berpotensi mereda setelah libur panjang usai. Perbaikan kondisi global serta masuknya kembali arus modal asing diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi penguatan rupiah.

Pemerintah juga optimistis bahwa perekonomian nasional tetap berada dalam jalur yang stabil. Konsumsi masyarakat yang meningkat selama periode Ramadan dan Lebaran diyakini dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.

BACA JUGA:Pemerintah dan Daerah Sidak Pembayaran THR Perusahaan Jelang Lebaran

Sumber: