Cara mengajarkan puasa pada anak, bertahap dan tanpa tekanan
Foto istimewa--
Jakarta -Ramadan di banyak keluarga datang bersama suasana baru di rumah. Jam makan berubah, waktu tidur bergeser, dan anak mulai bertanya tentang sahur serta puasa.
Pada momen inilah orang tua kerap berharap anak ikut berpuasa penuh. Harapan itu sering muncul tanpa disadari, sebelum sempat bertanya apakah anak sudah siap menjalaninya.
Di balik niat baik orang tua, puasa yang diperkenalkan terlalu dini atau terlalu menekan justru berisiko meninggalkan jejak emosional. Anak bisa belajar bertahan, tetapi tidak selalu belajar memahami. Ramadan pun berubah dari ruang belajar menjadi sumber ketegangan.
Psikiater dari National Hospital Surabaya dr. Aimee Nugroho, SpKJ, menilai pengenalan puasa yang sehat perlu berangkat dari kesiapan mental anak, bukan dari tuntutan usia atau perbandingan sosial.
“Dari sudut pandang kesehatan mental, kesiapan anak lebih penting daripada usia kronologis. Puasa sebaiknya dikenalkan sebagai proses bertahap, bukan kewajiban yang dipaksakan sejak awal,” kata Aimee
Menurut dia, pengalaman awal anak terhadap puasa akan membentuk cara pandangnya terhadap ibadah di kemudian hari. Apakah ia melihatnya sebagai proses bertumbuh atau sebagai tekanan yang harus ditaklukkan.
Puasa sebagai proses perkembangan, bukan ujian ketahanan Psikolog anak dan remaja Mariska Johana H, M.Psi., memandang puasa pada anak sebagai bagian dari proses perkembangan psikologis. Anak tidak cukup hanya diberi aturan. Mereka perlu dibantu memahami makna di baliknya, sesuai dengan tahap usia.
“Pemahaman tentang puasa Ramadan pada anak perlu dilihat sebagai proses perkembangan, bukan sekadar pengajaran aturan,” ujar Mariska
Ia menjelaskan puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling berkaitan dan tidak bisa dipaksakan hadir sekaligus.
Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Di tahap ini, puasa tidak relevan jika diposisikan sebagai kewajiban penuh.
“Puasa lebih dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar,” kata Mariska.
Anak dapat dikenalkan pada rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi. Orang tua membantu anak memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung terpenuhi. Nilai spiritual disampaikan dengan bahasa sederhana dan menenangkan, misalnya bahwa usaha mencoba berpuasa adalah perbuatan baik.
Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., menambahkan pendekatan bercerita (story telling) sangat efektif untuk anak usia dini. Story telling tentang kisah nabi atau cerita Islami membantu anak memahami nilai puasa tanpa tekanan.
Biasanya kalau masih kecil di bawah 6 tahun melalui story telling cerita tentang nabi atau islam akan sangat membantu,” kata Samanta
Sumber:





