Waspada Karhutla, Sumsel Mulai Terdeteksi Titik Panas Jelang Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi sejumlah titik panas di Sumatera Selatan jelang musim kemarau 2026.--
Harian OKU Selatan.ID- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah terdeteksinya sejumlah titik panas di beberapa wilayah. Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, setidaknya terdapat beberapa hotspot yang muncul seiring dengan mulai berkurangnya intensitas hujan di akhir Maret 2026.
Kemunculan titik panas ini menjadi sinyal awal bahwa wilayah Sumatera Selatan mulai memasuki masa rawan karhutla. Kondisi ini diperparah dengan perubahan pola cuaca yang memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, di mana suhu udara cenderung meningkat dan kelembapan menurun.
BACA JUGA:Kasus Korupsi KUR di Sumsel, Delapan Tersangka Ditetapkan
BACA JUGA:Pelabuhan Tanjung Api-Api Siaga 17 Kapal Hadapi Lonjakan Arus Balik Lebara
Sejumlah daerah yang terpantau memiliki titik panas antara lain berada di kawasan lahan gambut dan hutan produksi yang memang rentan terbakar saat kondisi kering. Pemerintah daerah bersama aparat terkait langsung melakukan langkah cepat dengan meningkatkan patroli darat serta pemantauan udara guna memastikan titik panas tersebut tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terutama dalam membuka area perkebunan atau pertanian. Praktik pembakaran lahan yang tidak terkendali menjadi salah satu penyebab utama terjadinya karhutla di wilayah ini setiap tahunnya.
“Peran serta masyarakat sangat penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Kami mengingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena risikonya sangat besar,” ujarnya.
BACA JUGA:Penumpang LRT Sumsel Masih Tinggi Saat Arus Balik, Jadi Andalan Warga Palembang
BACA JUGA:Kecelakaan Bus di Danau Ranau OKU Selatan, Diduga Tak Kuat Menanjak
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari penyediaan peralatan pemadam, pembentukan tim siaga, hingga koordinasi lintas instansi. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Tidak hanya berdampak pada lingkungan, karhutla juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Asap yang dihasilkan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, masyarakat diminta segera melapor jika menemukan indikasi kebakaran di sekitar wilayahnya.
Sementara itu, pihak berwenang juga terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memastikan kesiapan penanganan jika situasi memburuk. Dukungan teknologi seperti pemantauan satelit dan sistem peringatan dini juga dimanfaatkan untuk mendeteksi titik panas secara cepat dan akurat.
BACA JUGA:Ancaman PHK Massal PPPK Mengintai Usai Lebaran 2026, DPR Minta Aturan Ditunda
BACA JUGA:Iran Raup Miliaran Dolar dari Minyak di Tengah Konflik, Ekspor ke Asia Jadi Penopang
Sumber:
