Produktivitas Warga Binaan Lapas Perempuan Palembang Produksi 25 Kg Tempe per Hari
Melalui program produksi tempe ini, Lapas Perempuan Palembang membuktikan bahwa keterbatasan ruang tidak menjadi penghalang untuk berkarya--
PALEMBANG – Warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang menunjukkan produktivitas positif melalui program pembinaan kemandirian dengan memproduksi tempe hingga 25 kilogram per hari. Program ini menjadi salah satu upaya nyata pembinaan keterampilan sekaligus pemberdayaan ekonomi di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Kegiatan produksi tempe tersebut dilakukan setiap hari kerja dengan melibatkan sejumlah warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Mereka dibimbing mulai dari proses perendaman kedelai, perebusan, pencampuran ragi, hingga tahap fermentasi dan pengemasan. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan petugas serta memperhatikan standar kebersihan dan kualitas produk.
BACA JUGA:Bank Sumsel Babel Buka Kuota Mudik Gratis 2026, Bantu Warga Pulang Kampung Aman dan Nyaman
Kepala lapas menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian agar warga binaan memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah bebas nanti. “Kami ingin memastikan bahwa warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan yang berguna untuk kehidupan mereka di masyarakat,” ujarnya.
Produksi tempe sebanyak 25 kilogram per hari tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan internal maupun pesanan dari mitra kerja. Hasil penjualan turut membantu mendukung operasional kegiatan pembinaan serta memberikan premi atau upah kepada warga binaan sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami manajemen produksi dan tanggung jawab kerja.
BACA JUGA:Indonesia–China Luncurkan Laboratorium Kesehatan Digital, Perkuat Inovasi Teknologi Medis
Program ini juga mendapat dukungan dari instansi terkait, termasuk pembinaan teknis dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia melalui jajaran pemasyarakatan. Pendampingan dilakukan agar kegiatan usaha di dalam lapas berjalan sesuai regulasi serta memberikan manfaat maksimal bagi warga binaan.
Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan produksi tempe dinilai mampu membangun rasa percaya diri dan kebersamaan antarwarga binaan. Mereka bekerja dalam tim, membagi tugas, dan saling membantu dalam setiap tahapan produksi. Suasana kerja yang kondusif turut menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih positif.
BACA JUGA:Perang Digital dengan Korea Jadi Isu Viral, Pemerintah Minta Publik Tak Terprovokas
Salah seorang warga binaan mengaku bersyukur bisa mengikuti program tersebut. Ia mengatakan bahwa sebelumnya tidak memiliki pengalaman dalam membuat tempe, namun kini sudah memahami proses produksi secara menyeluruh. “Saya jadi punya keahlian baru. Mudah-mudahan setelah bebas nanti bisa membuka usaha kecil di rumah,” ungkapnya.
Program pemberdayaan ini sejalan dengan konsep pemasyarakatan yang menekankan pada pembinaan dan reintegrasi sosial. Lapas tidak lagi semata-mata menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran dan pengembangan diri.
BACA JUGA:Mayat Terbungkus Plastik Gegerkan Warga Bandarlampung, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan
Ke depan, pihak lapas berencana meningkatkan kapasitas produksi apabila permintaan pasar terus bertambah. Tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan produk turunan berbahan dasar kedelai lainnya sebagai variasi usaha. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi contoh praktik pembinaan produktif di lembaga pemasyarakatan lainnya.
Melalui program produksi tempe ini, Lapas Perempuan Palembang membuktikan bahwa keterbatasan ruang tidak menjadi penghalang untuk berkarya. Produktivitas warga binaan menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat dapat membuka peluang baru serta memberikan harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
