Perang Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak dan China Jadi Penentu Ekspor
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia--
Harian OKU Selatan.ID- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga energi global setelah konflik antara Iran dengan aliansi yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel semakin memanas. Serangan militer yang dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, membuat pasar energi dunia bereaksi cepat dengan kenaikan harga minyak dan gas secara signifikan.
Para analis energi memperkirakan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga mencapai 100 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,6 juta. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap terganggunya jalur distribusi minyak global, terutama jika pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi terlalu berbahaya bagi kapal tanker.
BACA JUGA:Pemerintah Resmi Terbitkan Aturan THR dan Gaji ke-13 dalam PP Nomor 9 Tahun
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Jika jalur ini terganggu akibat konflik militer, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh pasar energi internasional.
Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran bahwa distribusi minyak dari negara-negara produsen utama akan terhambat. Kondisi ini membuat harga minyak dunia bergerak naik karena investor dan pelaku pasar memperkirakan potensi berkurangnya pasokan energi global.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Turun Tajam Usai Pernyataan Trump soal Selat Hormuz
Di tengah konflik tersebut, peran China menjadi sangat penting dalam menentukan kelangsungan ekspor minyak Iran. China diketahui merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah Iran, bahkan di tengah berbagai sanksi internasional yang dikenakan terhadap negara tersebut.
Sejumlah analis menyebutkan bahwa China memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekspor minyak Iran. Jika Beijing tetap membeli minyak dari Teheran, maka aliran ekspor Iran masih dapat bertahan meskipun konflik militer dan tekanan internasional meningkat.
Sebaliknya, jika China mengurangi atau menghentikan pembelian minyak dari Iran, maka kondisi ekonomi negara tersebut bisa semakin tertekan. Hal ini karena sektor minyak merupakan sumber pendapatan utama bagi pemerintah Iran.
BACA JUGA:Bupati OKU Selatan Hadiri Safari Ramadhan 1447 H di Desa Pajar Bulan Kecamatan Kisam Tinggi
Sementara itu, konflik yang terus berlangsung juga meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global. Investor memantau dengan cermat perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas.
Para pengamat menilai bahwa jika konflik meluas atau melibatkan lebih banyak negara, dampaknya terhadap harga energi bisa jauh lebih besar. Selain minyak, harga gas alam juga berpotensi mengalami kenaikan karena meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia.
Negara-negara pengimpor energi, khususnya di kawasan Asia dan Eropa, menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari lonjakan harga tersebut. Kenaikan harga minyak mentah dapat memicu inflasi serta meningkatkan biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor ekonomi.
BACA JUGA:Asisten II Setda OKU Selatan Hadiri Rakor Linsek Kesiapan Operasi Ketupat Musi 2026
Sumber:
