Bahlil Ajak Masyarakat Hemat LPG, Ketergantungan Impor Capai 70 Persen
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat hemat LPG karena 70 persen pasokan masih impor. Kondisi global membuat ketahanan energi Indonesia rentan.--
Jakarta - Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji. Imbauan ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan global terhadap sektor energi, yang berdampak langsung pada pasokan dan harga LPG di dalam negeri.
Dalam keterangannya, Bahlil mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat Indonesia cukup rentan terhadap gejolak harga energi dunia, terutama ketika terjadi ketegangan geopolitik atau gangguan distribusi di tingkat global.
BACA JUGA:Kemarau di Sumsel Diprediksi Mulai Mei, Berlangsung hingga 5 Bulan
BACA JUGA:Polda Sumsel Catat 30.956 Kegiatan Pengamanan Selama Operasi Ketupat Musi 2026
“Terkait elpiji, kita butuh upaya bersama. Saya menyarankan masyarakat bijaksana dalam menggunakan energi ini, mengingat 70 persen pasokan kita berasal dari impor di tengah kondisi global saat ini,” ujar Bahlil.
Menurutnya, penggunaan LPG yang tidak efisien akan memperbesar beban negara, baik dari sisi subsidi maupun neraca perdagangan. Pemerintah sendiri setiap tahun harus mengalokasikan anggaran besar untuk menjaga harga LPG tetap terjangkau, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Bahlil menambahkan, lonjakan harga energi global dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pemerintah untuk mengingatkan pentingnya penghematan. Ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memengaruhi stabilitas pasokan energi internasional.
BACA JUGA:Sumsel United Boyong 22 Pemain Hadapi Adhyaksa FC di Banten
BACA JUGA:THR Bermasalah! 67 Pekerja di Sumsel Adukan Perusahaan
Selain itu, meningkatnya permintaan energi dari negara-negara besar juga berdampak pada persaingan mendapatkan pasokan LPG. Hal ini membuat harga impor menjadi lebih mahal dan berpotensi membebani anggaran negara jika konsumsi tidak dikendalikan.
Pemerintah, lanjut Bahlil, terus berupaya mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Salah satu langkah yang tengah didorong adalah pengembangan energi alternatif serta peningkatan produksi dalam negeri.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dengan menerapkan pola konsumsi energi yang lebih efisien. Misalnya, menggunakan LPG sesuai kebutuhan, memastikan peralatan memasak dalam kondisi baik, serta menghindari pemborosan dalam penggunaan sehari-hari.
BACA JUGA:Perbaikan Jalan Amblas di Pelawi OKU Selatan Masuk Tahap Pemasangan Gorong-gorong
BACA JUGA:THR Bermasalah! 67 Pekerja di Sumsel Adukan Perusahaan
Sumber:
