Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panas, BMKG Imbau Waspada Karhutla di Sumsel
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih panas dari biasanya, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak membuka lahan dengan cara dibaka--
Harian OKU Selatan.ID- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah rawan seperti Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG menyampaikan bahwa peningkatan suhu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kondisi iklim global dan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sumatera Selatan menjadi salah satu daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena memiliki kawasan lahan gambut yang cukup luas dan rentan terbakar saat musim kering.
BACA JUGA:Peserta KB Aktif di Sumsel Tembus 906 Ribu, Metode Suntik Paling Dominan
BACA JUGA:Pelaksanaan Program MBG di Kisam OKU Selatan Dievaluasi, Kualitas Makanan Dikeluhkan
“Pada musim kemarau tahun ini, suhu udara diperkirakan lebih tinggi dari normal. Hal ini tentu meningkatkan potensi terjadinya karhutla, terutama di daerah dengan vegetasi kering dan lahan gambut,” ujar perwakilan BMKG dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
BMKG mencatat bahwa puncak musim kemarau di Sumsel diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Pada rentang waktu tersebut, curah hujan diprediksi sangat minim, sehingga kondisi tanah dan vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
BACA JUGA:Ribuan Pendaftar Anggota Polri, Kapolda Sumsel Tekankan Proses Bersih dan Transparan
BACA JUGA:Calon Jemaah Haji Sumsel Mulai Masuk Asrama 21 April 2026
Seiring dengan prediksi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pedesaan dan sekitar kawasan hutan, untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Praktik membuka lahan dengan cara dibakar dinilai masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya karhutla di Indonesia.
Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diminta untuk meningkatkan langkah antisipasi sejak dini. Upaya tersebut meliputi patroli rutin di daerah rawan, penyediaan sarana pemadam kebakaran, serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menyatakan bahwa pihaknya telah mulai melakukan berbagai persiapan menghadapi musim kemarau tahun ini. Koordinasi dengan TNI, Polri, serta relawan terus diperkuat guna memastikan respons cepat jika terjadi kebakaran.
“Kami mengintensifkan patroli di wilayah rawan, terutama di daerah lahan gambut. Selain itu, peralatan pemadam juga disiagakan untuk menghadapi potensi kebakaran,” ujarnya.
Karhutla tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan masyarakat. Asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti ISPA, serta mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk transportasi dan kegiatan ekonomi.
BACA JUGA:Pemerintah Terapkan Sejumlah Kebijakan Hemat Energi, dari WFH hingga Pembatasan Perjalanan Dinas
Sumber:
