BANNER RAMADHAN KOMINFO

Sumsel Didominasi Zona Coklat, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering dari Normal

Sumsel Didominasi Zona Coklat, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering dari Normal

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan akan lebih kering dari normal, ditandai dengan dominasi zona coklat di berbagai wilayah--

Harian OKU Selatan.ID- Palembang – Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya pada tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Sumsel kini didominasi zona coklat, yang menandakan tingkat kekeringan lebih tinggi dibanding kondisi normal.

Berdasarkan pemantauan terbaru, zona coklat menggambarkan wilayah dengan curah hujan di bawah rata-rata. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak serius, terutama bagi sektor pertanian, perkebunan, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang.

BACA JUGA:Wacana Belanja Pegawai Dipangkas 30 Persen, Sekda Sumsel Pastikan Tak Ada PHK PPPK

Kepala BMKG wilayah setempat menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk dinamika suhu muka laut dan pola angin global yang berdampak pada distribusi curah hujan di Indonesia. “Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari normal. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan,” ujarnya.

Sejumlah daerah di Sumsel seperti Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, hingga OKI menjadi wilayah yang paling terdampak. Lahan pertanian di daerah tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan, dengan tanah yang mengeras dan pasokan air yang berkurang.

BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Ancam Serang Kampus-Kampus Milik AS di Kawasan Ketegangan di kawasan Timur

BACA JUGA:Iran Klaim Hantam 500 Tentara AS di Dubai, Ancaman Balasan Kian Memanas

Petani di beberapa wilayah mengaku mulai khawatir dengan kondisi ini. Mereka berharap adanya solusi dari pemerintah untuk mengantisipasi dampak kemarau, seperti penyediaan irigasi tambahan dan bantuan pompa air. “Kalau hujan terus berkurang, tanaman kami bisa gagal panen,” ungkap salah satu petani di wilayah Banyuasin.

Selain sektor pertanian, potensi kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian serius. BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas (hotspot), terutama di wilayah gambut yang mudah terbakar.

BACA JUGA:Waspada Karhutla, Sumsel Mulai Terdeteksi Titik Panas Jelang Musim Kemarau

BACA JUGA:Pelabuhan Tanjung Api-Api Siaga 17 Kapal Hadapi Lonjakan Arus Balik Lebara

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah mulai melakukan langkah antisipasi, seperti patroli rutin di daerah rawan karhutla, sosialisasi kepada masyarakat, serta penyiapan peralatan pemadam kebakaran. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dapat memperparah kondisi.

Di sisi lain, sektor air bersih juga berpotensi terdampak. Penurunan curah hujan dapat menyebabkan berkurangnya debit air sungai dan sumber air lainnya. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk mulai menghemat penggunaan air dan mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih di beberapa wilayah.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2026. Selama periode tersebut, curah hujan diperkirakan sangat minim, sehingga kondisi kekeringan berpotensi semakin meluas.

Sumber: